googlefcf80fbf5d29066f.html My Blog: Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan... !!

Pages

Monday, 26 March 2012

Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan... !!

Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan... !!
Terjadi Di Jakarta !!!, Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !! Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger minggu (5/6).    Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung. Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya Copy paste,Sebarkan agar Pemerintah tahu nasib rakyat yg tidak mampu..!!!

2 comments:

  1. KerenZ gan,, sepaham dengan pendapat agan,, Kalau rakyat miskin selalu berpikir : besok mau makan ap? Kalo pejabat pemerintah selalu yang ada di pikirannya adalah : Besogh saya mao makan siapa ya?? Begitulah Pemerintah sekarang bagai Binatang yang memiliki otak tapi tidak pernah dipergunakan otaknya. Sebenarnya kalo kita mau sadar dan melihat kenyataan Indonesia Qta ini Negerinya 'kaya raya' tapi masyarakatnya??,,, Masyarakat qta masih banyak yang miskin dan tidak bisa mengakses pendidikan, dan kesehatan. Negeri Qta sudah dikuasai oleh investor investor asing yang telah menjajah negeri ini secara ekonomi, Masii teringat kah anda dengan permainan monopoli?? iya, Seperti Berlomba lomba buka lahan bisnis dengan menekan sekecil mungkin tenaga2 kerja pribumi dengan tarif murah Biaya operasional agar tercapai keuntungan tanpa memperhatikan undang undang tenaga kerja. Sistem Kapitalis sudah membutakan para oknum pemerintah, kalo kita mao melihat beberapa contoh saya akan mengambil kutipan dari blog agan tentang 'Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan... !!' Dimana letak keberadaan Negara yang Telah jelas tertuang dalam Pancasila dan Undang undang 1945. Hidup rakyat, Sekilas ada sedikit mao share ilmu tentang Hymne Darah Juang: Darah Juang

    Disini Negeri kami, tempat padi terhampar

    Samuderanya.. kaya raya

    Negeri kami subur Tuhan….

    Di negeri permai ini

    Berjuta rakyat bersimbah luka

    Anak buruh tak sekolah

    Pemuda desa tak kerja

    Mereka dirampas haknya

    Tergusur dan lapar

    Bunda relakan darah juang kami

    Tuk bebaskan rakyat

    Padamu kami berjanji

    Padamu kami berbakti (yuniarirsal@gmail.com /ariffandi1@gmail.com

    ReplyDelete
  2. mangsatb Gan,,, seplah :)
    Indonesia negara tercinta yang kaya dan makmur :)

    ReplyDelete